Tiga Manuver Gila CBRE: Beli Kapal 13x Modal, Langsung Kantongi Kontrak Triliunan, dan Bikin Saham Meroket

Di bursa saham, ada perusahaan yang bermain catur, menggerakkan bidak secara hati-hati. Lalu, ada yang bermain poker—mendorong semua chip ke tengah meja dengan satu kartu di tangan. PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) baru saja melakukan yang kedua. Namun, seberapa besar risiko yang bisa diterima, dan apa yang membedakan pertaruhan nekat dari strategi jenius? Artikel ini akan mengupas tiga fakta paling mengejutkan di balik manuver finansial sangat agresif yang dilakukan CBRE.

1. Pertaruhan Finansial Skala Raksasa: Beli Kapal 13 Kali Lipat Modal Sendiri

Langkah pertama CBRE yang menggemparkan pasar adalah akuisisi kapal pipe-laying bernama Hai Long 106. Nilai transaksinya tidak main-main, mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp1,55 triliun. Angka ini menjadi luar biasa ketika disandingkan dengan kondisi keuangan perusahaan pada kuartal I 2025, di mana nilai ekuitas (modal sendiri) perseroan tercatat hanya Rp118,46 miliar. Ini membawa kita pada fakta paling mengejutkan: nilai akuisisi kapal tersebut setara dengan 13 kali lipat ekuitas perusahaan.

Manuver ini menjadi mungkin berkat struktur pembiayaan yang canggih. Sebagian besar dana akuisisi berasal dari fasilitas kredit senilai USD 49 juta (sekitar Rp803,35 miliar) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Uniknya, agunan utama dari pinjaman raksasa ini adalah tagihan yang akan timbul dari kontrak sewa kapal Hai Long 106 itu sendiri.

Langkah ini juga membawa risiko finansial yang sangat tinggi. Sebelum akuisisi, rasio utang terhadap ekuitas (DER) CBRE sudah berada di angka 190 persen. Dengan tambahan utang ini, DER perseroan berpotensi melonjak drastis di atas 1.000 persen. Ini bukan sekadar leverage; ini adalah pertaruhan eksistensial. Dengan satu transaksi, manajemen mempertaruhkan seluruh masa depan perusahaan pada satu aset tunggal.

2. Validasi Instan: Kontrak Sewa 8 Tahun Langsung di Tangan

Pertaruhan besar CBRE ternyata tidak dibiarkan menggantung tanpa kepastian. Pada tanggal 5 November 2025, CBRE langsung menandatangani perjanjian sewa-menyewa untuk kapal Hai Long 106. Kontrak ini bukan sembarang kontrak, melainkan sebuah kesepakatan jangka panjang dengan kontraktor fabrikasi lepas pantai terkemuka, PT Gunanusa Utama Fabricators.

Berikut adalah detail kunci dari kontrak tersebut:

  • Penyewa: PT Gunanusa Utama Fabricators.
  • Jenis Kontrak: Time charter.
  • Jangka Waktu: 8 tahun.
  • Tarif Harian: USD 90.000 per hari.
  • Tarif Siaga: USD 50.000 per hari.

Untuk memberikan gambaran, kontrak ini berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sekitar USD 262,8 juta (USD 90.000/hari x 365 hari x 8 tahun), atau lebih dari dua setengah kali lipat nilai akuisisi kapal itu sendiri. Inilah validasi yang dicari pasar, sebuah jaminan arus kas masif yang efektif mengamankan pengembalian investasi. Direktur Utama CBRE, Suminto Husin Giman, memberikan konteks strategis di balik langkah ini.

“Perseroan dapat merealisasikan strategi diversifikasi kegiatan usaha dengan memasuki segmen baru yaitu jasa pendukung lepas pantai ( offshore ), meningkatkan kapasitas aset dan layanan serta memperoleh diversifikasi pendapatan dari kegiatan usaha yang dijalankan.”

3. Paradoks Pasar Saham: Utang Tinggi, Laba Tipis, tapi Saham Melejit 146%

Reaksi pasar saham terhadap manuver CBRE tampak berlawanan dengan fundamental keuangan perusahaan saat itu. Alih-alih merespons negatif terhadap lonjakan utang, investor justru menyambutnya dengan euforia luar biasa. Kinerja saham CBRE tercatat fenomenal, melonjak 146% dari harga Rp735 menjadi Rp1.810 hanya dalam enam hari perdagangan.

Euforia pasar ini sangat kontras dengan data kinerja keuangan CBRE pada Kuartal I 2025 yang menunjukkan beberapa kelemahan fundamental:

  • Laba bersih justru turun dari Rp1,94 miliar menjadi Rp1,33 miliar.
  • Margin laba bersih menyusut menjadi hanya sekitar 6 persen.
  • Laba operasional belum mampu menutup beban bunga tahunan sepenuhnya, dengan rasio cakupan bunga (interest coverage ratio) diperkirakan berada di bawah 1x, yang berarti laba operasionalnya bahkan tidak cukup untuk menutupi beban bunga.

Euforia pasar bukan lahir dari kebutaan terhadap neraca. Sebaliknya, investor melihat kontrak 8 tahun dengan Gunanusa sebagai mesin kas yang akan menjinakkan gunung utang CBRE dan membiayai transformasi perusahaan. Pasar tidak mengabaikan DER 1.000%+, melainkan bertaruh bahwa arus kas jumbo dari kontrak baru ini adalah penawarnya, membuat utang tersebut dapat dilunasi sambil menciptakan nilai perusahaan yang jauh lebih besar.

Kesimpulan: Keberanian atau Kenekatan?

Kisah CBRE merangkum tiga manuver bisnis yang luar biasa: akuisisi aset bernilai 13 kali lipat modal dengan tingkat utang yang sangat tinggi, pengamanan kontrak raksasa yang cepat untuk memvalidasi pertaruhan tersebut, dan respons pasar yang sangat positif meski fundamental keuangan sedang lemah.

Langkah berani CBRE ini menunjukkan bahwa di pasar modal, terkadang narasi masa depan yang kuat lebih dihargai daripada neraca keuangan yang aman saat ini. Pertanyaannya, apakah keberanian seperti ini adalah resep untuk kesuksesan jangka panjang, atau sekadar spekulasi berisiko tinggi yang menunggu waktu?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top